5 Besar Istana Jeoseon : Changdeokgung, Gyeongbokgung, Changgyeonggung, Deoksugung, Gyeonghuigung

1. Changdeokgung ( Istana Changdeok )

Changdeokgung (Istana Changdeok) adalah kompleks istana Dinasti Joseon di Seoul, Korea Selatan. Istana Changdeok adalah salah satu dari Lima Istana Besar yang dibangun sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan. Istana Changdeok terletak di sebelah timur Gyeongbokgung sehingga sering disebut dengan Donggung atau Istana Timur. Makna dari Changdeokgung (昌德宮) adalah Istana Kemakmuran

Changdeokgung pernah didiami banyak raja Dinasti Joseon dan mewarisi elemen-elemen dari masa Tiga Kerajaan yang tidak dimasukkan dalam pembangunan arsitektur Gyeongbokgung. Salah satu elemen tersebut adalah menyatunya Istana Changdeok dengan topografi alam sehingga terlihat sangat harmonis.

Changdeokgung dibangun sebagai istana kedua Dinasti Joseon tahun 1405 yang merupakan tempat kediaman keluarga kerajaan.Tidak seperti Gyeongbokgung yang disusun mengikuti sebuah sumbu utama, Changdeokgung dibangun seturut dengan harmoni topografi tanah yang berbukit-bukit. Bagian istana yang paling terkenal adalah Taman Rahasia yang terdapat di bagian belakang istana. Taman Rahasia sebenarnya tidak tersembunyi lokasinya. Itu hanya untuk menyebut sebuah taman belakang yang hanya boleh dimasuki kaisar dan istrinya atau keluarga kerajaan yang diizinkan.

2. Gyeongbokgung ( Istana Gyeongbok )

Istana Gyeongbok aslinya didirikan tahun 1395 oleh Jeong do jeon, seorang arsitek. Istana ini hancur pada saat invasi Jepang ke Korea tahun 1592-1598 dan dibangun lagi selama tahun 1860-an dengan 330 buah komplek bangunan dengan 5.792 kamar. Berdiri di wilayah seluas 410.000 meter persegi, Istana Gyeongbok adalah simbol keagungan kerajaan dan rakyat Korea. Setelah pembunuhan Maharani Myeongseong oleh mata-mata Jepang di tahun 1895, Raja Gojong meninggalkan istana ini bersama anggota keluarganya yang lain dan tidak akan pernah kembali.

Pada tahun 1911, pemerintahan Jepang yang sedang menjajah Korea menghancurkan semua bangunannya kecuali 10 bangunan utama, dan membangun Bangunan Pemerintahan Utama Jepang untuk gubernur jenderal Korea di depan Ruangan Tahta.
Bangunan utama dari Istana Gyeongbok termasuk Geunjeongjeon, Ruangan Tahta Raja (yang merupakan harta nasional Korea Selatan nomor 223) dan Paviliun Gyeonghoeru (harta nasional nomor 224) yang memiliki kolam bunga teratai dan bertiangkan 48 buah tonggak granit. Istana Gyeongbok saat ini dibuka untuk umum dan Museum Nasional Rakyat Korea (National Folk Museum of Korea) berdiri di dalamnya.

Istana Gyeonbok adalah istana utama Dinasti Joseon. Begitu masuk dari gerbang utama Gwanghamun, pengunjung bisa melihat hamparan halaman batu yang luas. Di tengah halaman berdiri bangunan utama, Geunjeongjeon, tempat kaisar menyelenggarakan pemerintahan, pertemuan, menerima tamu luar negeri, dan upacara penobatan.

3. Changgyeonggung ( Istana Changgyeong )

Changgyeonggung atau Istana Changgyeong adalah istana yang berlokasi di Seoul, Korea Selatan. Aslinya adalah bangunan istana musim panas dari kaisar Dinasti Goryeo yang dibangun pada tahun 1104, kemudian diwariskan ke Dinasti Joseon dan merupakan salah satu dari Lima Istana Besar Dinasti Joseon.
Raja Sejong yang Agung dari Dinasti Joseon kemudian menambahkan beberapa bangunan istana untuk ayahandanya Raja Taejong dan disebut dengan Istana Sugang (Suganggung), namun pada tahun 1483 direnovasi dan diperluas oleh Raja Seongjeong. Istana ini mengalami kehancuran pada saat Invasi Jepang ke Korea tahun 1592, namun setelah itu dipulihkan lagi.
Pada masa kolonial Jepang, pemerintah Jepang menambahkan kebun binatang, kebun raya dan museum di dalam kompleksnya. Pada tahun 1983 kebun binatang dan kebun raya dihilangkan. Saat ini beberapa tempat bersejarah yang terdapat di Istana Changgyeong adalah:
Gerbang Honghwamun – kemungkinan dibangun tahun 1484 oleh Raja Seongjong, namun musnah terbakar dalam Invasi Jepang tahun 1592, dan dibangun kembali tahun 1616 di masa pemerintahan Raja Gwanghaegun.
Jembatan Okcheongyo – dibangun tahun 1483; memiliki panjang 9,9 meter dan lebar 6,6 meter dengan kaki yang melengkung.
Myeongjeongjeon – ruangan atau bangunan istana yang dibangun tahun 1484, namun terbakar dan musnah pada saat Invasi Jepang tahun 1592, lalu dibangun kembali pada tahun 1616. Myeongjeongjeon hanya berlantai 1 dengan atap yang saling bersusun.
Sungmundang – ruangan atau bangunan istana yang dibangun tahun 1830 untuk Raja Sunjo; Raja Yeongjo mengadakan berbagai ujian kenegaraan di sini.
Paviliun Haminjeong – dibangun tahun 1633.
Gyeongchunjeon – ruangan atau bangunan istana yang dibangun tahun 1483, namun hancur di tahun 1592 karena Invasi Jepang kemudian dibangun lagi tahun 1616, tapi terbakar di tahun 1830 dan kemudian dibangun lagi tahun 1834. Raja Jeongjo dan Raja Heonjong dilahirkan di tempat ini.
Hwangyeongjeon – ruangan atau bangunan istana yang dibangun tahun 1484 pada masa kekuasaan Raja Seongjong, namun hancur di tahun 1592 karena Invasi Jepang kemudian dibangun lagi tahun 1616, tapi terbakar di tahun 1830 dan kemudian dibangun lagi tahun 1834.
Tongmyeongjeon – ruangan atau bangunan istana yang juga dibangun tahun 1484 pada masa kekuasaan Raja Seongjong, namun hancur di tahun 1592 karena Invasi Jepang kemudian dibangun lagi tahun 1616, tapi terbakar di tahun 1830 dan kemudian dibangun lagi tahun 1834.
Kolam Chundangji – dibuat pada tahun 1909, dengan sebuah pulau yang luasnya 366 meter persegi dan sebuah jemabtan ditambahkan pada tahun 1984. Kolam yang terkecil luasnya 1.107 meter persegi dan yang terbesar luasnya 6.483 meter persegi.

4. Deoksugung ( Istana Deoksu )

Istana ini pernah menjadi istana utama bagi Dinasti Han yang Besar (1897-1910). Pada masa kejayaannya, Deoksugung berukuran tiga kali lipat dari luasnya saat ini dan terdiri atas banyak bangunan.

Deoksugung muncul sebagai pusat sejarah modern Korea tahun 1897. Itulah sebabnya, lokasinya kini dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Setelah Kaisar Gojong meninggal tahun 1919, Jepang menjual sebagian wilayah istana lalu mengembangkan tanahnya sebagai taman publik.

Ada dua bangunan bergaya Barat di dalam kompleks Deoksugung. Seokjojeon, gedung dari batu—bukan kayu seperti bangunan istana—bergaya neoklasik digunakan sebagai kediaman Kaisar Gojong. Bangunan lain adalah Museum Seni Nasional Deoksugung. Kedua bangunan itu dibangun sebagai bagian dari upaya Dinasti Han yang Besar menuju modernisme.

Deoksugung (Istana Deoksu) adalah kompleks istana yang ditempati oleh berbagai anggota keluarga kerajaan Dinasti Joseon sampai terjadinya penjajahan Jepang. Jenis bangunan di kompleks istana Deoksu cukup beragam, mulai dari bangunan berbahan dasar kayu sampai bangunan bergaya barat.
Sebagai tambahan bangunan, di dalam area kompleks juga terdapat museum seni, kebun raya dan patung raja Sejong.

5. Gyeonghuigung ( Istana Gyeonghui )

Gyeonghuigung atau Istana Gyeonghui adalah istana yang terletak di Seoul, Korea Selatan. Istana Gyeonghui termasuk dari Lima Istana Besar Korea yang didirikan oleh Dinasti Joseon.
Pada masa-masa akhir Dinasti Joseon, Istana Gyeonghui adalah istana sampingan untuk raja dan lokasinya terletak di sebelah barat Seoul. Istana ini seringkali disebut Seogwol (Istana di Sebelah Barat). Istana sampingan berfungsi sebagai tempat pindahnya raja ketika terjadi keadaan darurat.
Sekitar 10 orang raja Joseon dari Raja Injo sampai Raja Cheoljong pernah mendiami istana ini. Istana yang dibangun dengan harmonis bersama topografi gunung di sekelilingnya ini memiliki arsitektur yang memperlihatkan keindahan elemen-elemen khas Korea. Dahulu istana ini bahkan memiliki jembatan yang menghubungkannya dengan Istana Deoksu. Bangunan utamanya terbagi atas bangunan Sungjeongjeon dan Jajeongjeon dan ruang tidur Yungbokjeon dan Hoesangjeon.

istana ini merupakan istana kedua tempat para kaisar tinggal dalam keadaan darurat. Semasa invasi Jepang ke Korea, sekolah Jepang dipindahkan ke dalam istana.

Salah satu daya tarik bagi pengunjung Gyeonghuigung adalah penampilan para pelajar taekwondo, ilmu bela diri asal Korea, dari Kukkiwon, markas besar taekwondo. Ada program pertunjukan taekwondo dan latihan taekwondo bagi orang asing setiap hari, kecuali Senin. musuh utama istana-istana megah itu adalah api karena bahan utama istana adalah kayu. Kebakaran besar pernah menghancurkan hampir seluruh bagian Lima Istana Agung. Pada tahun 1592 itu kerusakan parah terjadi saat Jepang menginvasi Korea, Hampir seluruh istana rata dengan tanah.

Ok it’s done, saya buat artikel ini terinspirasi dari drama saeguk Dong Yi atau Jewel in The Palace dari dinasti joseon. bagi warga korea peninggalan dari berbagai dinasti bener2 dijaga dan dirawat pemerintah rela menghabiskan milyaran rupiah demi perbaikan istana-istana yang ada di korea selatan dan telah tercatat sebagai warisan dunia. wow keren ya…..hope you like it chingu. ^^

The Royal Tombs of King Sukjong

King Sukjong & Queen Inhyeon Tombs

Diatas adalah foto dari makam king sukjong dan makam ratu inhyeon apabila dilihat dari dalam paviliun upacara / paviliun peringatan. [menurut catatan sejarah sebelum king sukjong wafat pesan terakhirnya adalah dimakamkan disamping makam ratu inhyeon].

King Sukjong Myeongneung

Makam Raja Sukjong berada di Propinsi Gyeonggi. Di lembah yang terpisah di sebelah kanan dekat kedua makam yang berdampingan, yaitu Makam Raja Sukjong dan makam Ratu In Hyeon. Makam Ratu Inwon (Ratu ke-3 setelah Ratu Inhyeon wafat) ada di dekatnya [Gambar bawah].

Menurut aturan seharusnya “Pria di sebelah kanan dan lebih tinggi, wanita di sebelah kiri dan lebih rendah” dilanggar demi menghemat biaya untuk menata ulang areal pemakaman dan digantikan dengan membangun paviliun upacara baru di lokasi yang pantas untuk disesuaikan dengan peraturan.

Batu Nisan Dalam Paviliun

Ada 2 batu nisan dalam paviliun ini , satu untuk Raja Sukjong dan Ratu Inhyeon dan satu lagi untuk Ratu Inwon (Ratu ke-3 setelah Ratu Inhyeon meninggal)
Kedua batu nisan ditulis oleh Raja Yeongjo di th 1757 (Raja ke 21 Dinasti Joseon, putra Raja Sukjong dan Choi Sukbin atau Choi Dong Yi)

Jalan Menuju Makam Ratu Ingyeong (Istri Pertama King Sukjong)

Jalan menuju paviliun upacara. Lokasi areal makam Ratu Ingyeong. Isteri pertama Raja Sukjong yang meninggal di usia 20 th karena cacar air.

Sejarah Lady Hwagyeong/Lady Choi Suk Bin/Choi Dong Yi (1670 – 1718)

Annyong Sesang,

Berhubung lagi nge-fans banget sama drama korea dong yi, jadi pengen tahu lebih banyak tentang kehidupan Choi Dong Yi / Choi Suk-Bin yang sebenernya. seperti kita ketahui sesama fans drama korea dong yi, drama ini diangkat dari cerita kolosal atau kisah nyata historis korea tentang seorang pelayan air istana Choi Dong Yi.

sebenernya aku pengen tahu lebih banyak tentang kehidupan dong yi yang sebetulnya tapi ternyata susah banget udah ngutak-ngatik di google hasil yang di dapat ternyata sama aja. tidak ada catatan tentang kehidupannya sebelum ia menjadi selir sukjong dia hanyalah seorang pelayan air di istana yang kemudian menjadi selir dengan gelar suk-bin dan berubah nama menjadi Ladi Hwagyeong / Lady Choi Suk Bin setelah melahirkan seorang anak laki-laki yang kemudian menjadi Raja Joseon ke-21, King Yeongjo. Dalam sejarah tidak ada catatan mendetil mengenai Dong Yi, tapi pernah disebutkan, sebelum jadi Suk Bin, ia memang pernah dipanggil dengan panggilan Sung Eun Sang Gung.

hanya sedikit informasi yang bisa di dapat tentang kehidupan Choi Dong Yi dalam buku-buku sejarah Korea hal ini dikarenakan Choi Dong Yi berasal dari Cheonmin atau kelas bawah / kelas hamba ( Cheomin itu adalah kelas paling terbawah pada dinasti Joseon). soalnya pada masa pemerintahan Joseon lebih terfokus pada pencatatan sejarah raja. dan informasi tentang gundik kerajaan sangat sedikit sekali. tetapi hal ini memungkinkan jika selir berasal dari kelas atas sehingga nama dan jabatan anggota keluarga mereka lebih mungkin untuk dicatat oleh sejarah.Bahkan nama Dong Yi bukanlah nama yang sebenarnya dan tidak ada catatan yang memberitahukan siapa nama asli dari Dong Yi, ia hanyalah dikenal sebagai suk-bin sedangkan Choi adalah nama marga/keluarga. (hah…dong yi mengapa kau begitu misterius :( )

Choi Dong Yi meninggal pada tahun 1718 dalam usia 48 tahun ( 2 tahun sebelum King Sukjong ) dan dimakamkan di dalam Chilgung (artinya Istana Tujuh) dimana tujuh ibu selir raja joseon dimakamkan.

itulah sedikit sejarah tentang Choi Suk-Bin seorang selir Raja dari kalangan Cheonmin namun karena memiliki hati yang sangat mulia maka Choi Suk Bin sudah dianggap sebagai bangsawan oleh Sukjong.(Jadi inget kata-katanya Cha Cheon Soo pada gadis Kecil di Episode terakhir Drama Korea Dong Yi, “kalau ia mulia bagaikan bangsawan karena hatinya mulia. Bukan karena statusnya, dan kalau memiliki hati yang mulia maka pada akhirnya akan menjadi orang yang mulia” ga tahu maksudnya makanya jangan lupa nonton dong yi sampe habis ok.

Choi Suk Bin " The Queen In People Hearts "